Kopi Sinjai 2035 Didorong Jadi Kekuatan Ekonomi Daerah Berkelanjutan
![]() |
| Kopi Sinjai 2035 Didorong Jadi Kekuatan Ekonomi Daerah Berkelanjutan (Foto : Istimewa) |
PEWARTA SULSEL - Pengembangan kopi di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, mulai diarahkan ke tahap yang lebih luas. Tak hanya meningkatkan produksi dan kapasitas petani, komoditas tersebut ditargetkan mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Arah pengembangan itu dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Multi Stakeholder Kopi Sinjai 2035 yang digelar Dompet Dhuafa Republika Sulawesi Selatan di Kawasan Madaya, Desa Arabika, Kecamatan Sinjai Barat, Kamis (8/10/2026).
Mengusung tema “Menata Arah, Menguatkan Ekosistem: Dari Perjalanan Pemberdayaan Menuju Kekuatan Ekonomi Daerah”, forum tersebut mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan dalam ekosistem kopi.
Peserta FGD berasal dari berbagai unsur, mulai petani, kelompok tani, akademisi, peneliti, praktisi kopi, pelaku usaha, roaster hingga mitra pasar. Mereka membahas arah pengembangan kopi Sinjai agar memiliki rantai nilai yang semakin kuat.
Mewakili Bupati Sinjai, Kepala Bappeda Sinjai Haerani Dahlan membuka kegiatan sekaligus menjadi salah satu pemateri.
Dalam pemaparannya, Haerani menjelaskan bahwa perkembangan kopi Sinjai dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan cukup signifikan. Komoditas yang sebelumnya memiliki nilai jual relatif rendah di tingkat petani kini telah mampu menembus pasar nasional dan mulai diarahkan untuk memasuki pasar global.
Menurut Haerani, capaian tersebut tidak terlepas dari kerja sama berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan kopi, termasuk petani, pemerintah, lembaga pendamping, dunia usaha serta mitra pembangunan.
“Sekarang kita harus naik ke tahap berikutnya. Jika selama ini fokus pada pemberdayaan di tingkat hulu, maka ke depan kita harus menata arah yang lebih strategis dengan menjadikan kopi Sinjai sebagai kekuatan ekonomi daerah yang berkelanjutan,” kata Haerani.
Dorong Hilirisasi Kopi
Pemkab Sinjai, lanjut Haerani, telah menetapkan kopi sebagai salah satu komoditas ikonik unggulan daerah. Pengembangannya tidak hanya menyasar peningkatan hasil produksi, tetapi juga diarahkan pada hilirisasi dan penguatan rantai nilai.
Dengan pendekatan tersebut, manfaat ekonomi kopi diharapkan dapat dirasakan lebih luas, mulai dari sektor produksi hingga pengolahan, perdagangan maupun berbagai usaha turunannya.
Sejumlah program juga telah dijalankan pemerintah daerah. Di antaranya penanaman perdana bibit kopi di Desa Batu Belerang, pengamanan bantuan 400 hektare bibit kopi dari Kementerian Pertanian, serta peningkatan kapasitas petani melalui Sekolah Lapang Kopi.
Haerani menegaskan, pengembangan komoditas kopi membutuhkan keterlibatan banyak pihak agar ekosistem yang dibangun mampu bertahan dalam jangka panjang.
“Keberhasilan ini tidak akan terwujud tanpa sinergi lintas sektor. Kita membutuhkan keterlibatan petani, pelaku usaha, akademisi, komunitas, media dan pemerintah untuk membangun ekosistem kopi yang tangguh dan berkelanjutan,” ujarnya.
Bidik Indikasi Geografis hingga Pariwisata Edukasi
Dalam visi pengembangan kopi Sinjai hingga 2035, Pemkab Sinjai juga menargetkan sejumlah agenda strategis. Salah satunya mendorong pengurusan Indikasi Geografis (IG) Kopi Arabika Sinjai.
Selain itu, pemerintah daerah ingin memperluas akses pasar, memperkuat regenerasi petani, serta mengembangkan industri kreatif dan pariwisata edukasi berbasis kopi.
Pengembangan produk turunan kopi juga menjadi bagian dari arah tersebut. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan nilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat yang terlibat dalam ekosistem kopi.
Haerani berharap FGD Multi Stakeholder Kopi Sinjai 2035 tidak berhenti sebagai ruang bertukar gagasan. Forum tersebut diharapkan mampu melahirkan langkah konkret dan kolaborasi yang dapat memperkuat posisi kopi Sinjai sebagai komoditas unggulan daerah.
“Yang kita bangun hari ini bukan hanya kebanggaan terhadap kopi Sinjai, tetapi warisan ekonomi yang bisa dinikmati generasi yang akan datang,” tuturnya.
FGD tersebut menjadi momentum untuk menyatukan berbagai gagasan dan menyusun arah bersama pengembangan kopi Sinjai. Petani dan seluruh pelaku dalam ekosistem kopi ditempatkan sebagai aktor utama dalam mendorong perubahan menuju industri kopi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
