Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS! BI Turun Tangan, Ini Strategi Besar Jaga Stabilitas

Rupiah Tembus  Rp17.000 per Dolar AS! BI Turun Tangan, Ini Strategi Besar Jaga Stabilitas
Ilustrasi. Rupiah melemah terhadap nilai Dolar AS.

PEWARTA.CO.ID, SULSEL — Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kondisi ini mendorong Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat langkah-langkah stabilisasi guna menjaga kepercayaan pasar di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat.

Bank sentral menegaskan bahwa menjaga stabilitas rupiah tetap menjadi fokus utama, terutama di tengah dinamika ekonomi dunia yang tidak menentu akibat berbagai faktor eksternal.

Rupiah melemah signifikan

Berdasarkan perkembangan terbaru di pasar keuangan, rupiah ditutup melemah cukup tajam. Mata uang Garuda tercatat turun sebesar 0,41 persen atau sekitar 70 poin, sehingga berada di level Rp17.105 per dolar AS.

Pelemahan ini mencerminkan tekanan yang masih kuat dari sentimen global, termasuk konflik geopolitik dan arah kebijakan moneter negara maju.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa pihaknya terus mencermati pergerakan nilai tukar dan siap mengambil langkah strategis untuk menjaga kestabilan.

“Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki. Serta menerapkan kebijakan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti sdalam pernyataan tertulisnya, Selasa , 7 April 2026.

BI siaga di pasar uang

Sebagai bentuk respons konkret, Bank Indonesia akan aktif melakukan intervensi di berbagai segmen pasar keuangan. Langkah ini dilakukan secara terukur dan konsisten untuk meredam volatilitas rupiah.

“Untuk menstabilkan rupiah, BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang. Baik di spot market, DNDF maupun NDF di offshore market,” ucap Destry.

Instrumen DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) merupakan upaya intervensi BI di pasar domestik. Sementara itu, NDF (Non-Deliverable Forward) digunakan untuk menjangkau pasar luar negeri, sehingga pengaruh stabilisasi bisa lebih luas.

Dampak konflik global jadi perhatian

Tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar global yang berdampak pada arus modal dan nilai tukar.

Namun demikian, Destry melihat adanya sisi positif dari situasi tersebut. Kenaikan harga komoditas akibat konflik justru berpotensi memberikan keuntungan bagi Indonesia sebagai negara eksportir.

“Sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi konflik tersebut,” ujar Destry.

Sentimen global dan domestik menekan rupiah

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga tengah menanti rilis data inflasi Amerika Serikat. Data tersebut akan menjadi acuan penting bagi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.

Jika inflasi masih tinggi, maka peluang kenaikan suku bunga tetap terbuka, yang berpotensi menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga menjadi perhatian investor. Kombinasi faktor eksternal dan domestik inilah yang membuat pergerakan rupiah masih rentan.

Dengan berbagai tekanan tersebut, langkah cepat dan terukur dari Bank Indonesia menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memastikan kepercayaan pasar tetap terjaga.

Indowin88