Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bisnis Pupuk Organik dari Limbah Ternak di Sidrap, Pasokan Bahan Baku Didatangkan dari Berbagai Daerah

Limbah peternakan yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai ternyata memiliki potensi ekonomi jika dikelola dengan tepat. Peluang ini dimanfaatkan
Bisnis Pupuk Organik dari Limbah Ternak di Sidrap, Pasokan Bahan Baku Didatangkan dari Berbagai Daerah
Bisnis Pupuk Organik dari Limbah Ternak di Sidrap, Pasokan Bahan Baku Didatangkan dari Berbagai Daerah
(Foto : Istimewa) 

PEWARTA SULSEL - Limbah peternakan yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai ternyata memiliki potensi ekonomi jika dikelola dengan tepat. Peluang ini dimanfaatkan CV Kur Agro Lestari di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, dengan mengolah kotoran sapi, kambing, ayam, dan itik menjadi pupuk organik.

Usaha milik Ridwan Umar yang berlokasi di Kelurahan Arawa, Kecamatan Watang Pulu, tersebut telah beroperasi sejak 2012. Selain memanfaatkan limbah peternakan, perusahaan ini juga mengolah berbagai sisa hasil pertanian sebagai bahan baku pupuk organik.

Untuk memenuhi kebutuhan produksi, CV Kur Agro Lestari tidak hanya mengandalkan pasokan dari Kabupaten Sidrap. Sejumlah bahan baku didatangkan dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Barat.

Saat dikunjungi pada Minggu (11/10/2026), area produksi tampak dipenuhi tumpukan material organik. Sementara itu, ratusan karung pupuk yang telah dikemas terlihat siap didistribusikan kepada pelanggan.

Lokasi usaha tersebut berjarak sekitar 5,1 kilometer dari Pangkajene, ibu kota Kabupaten Sidrap.

Pasokan Bahan Baku dari Berbagai Daerah

Ridwan mengatakan, bahan baku produksi pupuk organik terdiri atas kotoran hewan atau kohe dari sapi, kambing, ayam, dan itik. Perusahaan juga menggunakan boiler sawit, dolomit, serbuk gergaji, sekam bakar, serta ampas tebu.

Untuk menjaga ketersediaan bahan baku, pihaknya menjalin kerja sama dengan sejumlah pemasok. Salah satunya melalui nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan perusahaan pemasok ternak kambing di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat.

Kerja sama tersebut memungkinkan perusahaan memperoleh pasokan kotoran kambing dalam jumlah ratusan ton untuk diolah di fasilitas produksi Sidrap.

“Kebetulan kami ada MoU dengan salah satu perusahaan suplayer ternak kambing di Polman untuk mengirim kohe kambingnya dan itu dikirim ratusan ton,” kata Ridwan.

Selain dari Polman, bahan baku berupa boiler sawit didatangkan dari Kabupaten Luwu Timur. Dolomit diperoleh dari Kabupaten Barru, sedangkan ampas tebu berasal dari Pabrik Gula Arasoe di Kabupaten Bone.

Adapun sekam bakar dan serbuk gergaji diperoleh dengan memanfaatkan potensi bahan yang tersedia di sekitar lokasi usaha.

Keragaman sumber bahan baku tersebut menjadi salah satu penunjang kegiatan produksi perusahaan dalam mengembangkan usaha pupuk organik.

Proses Produksi Melalui Fermentasi

Pengolahan pupuk organik di CV Kur Agro Lestari dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari pengumpulan bahan baku, pencampuran menggunakan alat berat, hingga proses fermentasi.

Sebelum diproses lebih lanjut, bahan baku yang terkumpul dapat mencapai sekitar 800 ton. Berbagai material organik tersebut kemudian dicampur dengan komposisi tertentu sesuai kebutuhan produksi.

Dalam proses pencampuran, perusahaan menambahkan dekomposer dan molases untuk membantu penguraian bahan organik. Selanjutnya, campuran tersebut menjalani proses fermentasi selama kurang lebih 14 hari.

Setelah proses pengolahan selesai, pupuk organik dipersiapkan untuk dikemas dan dikirim kepada pembeli.

Pemanfaatan kotoran ternak dan sisa pertanian ini menjadi salah satu upaya meningkatkan nilai guna bahan yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah.

Jika diolah melalui proses pengomposan yang tepat, pupuk organik dapat membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah menahan air, serta menambah kandungan bahan organik yang mendukung kesuburan lahan pertanian.

Pemasaran Menjangkau Luar Sulawesi Selatan

Produk pupuk organik CV Kur Agro Lestari kini dipasarkan ke sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan, di antaranya Maros, Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Wajo, serta Enrekang.

Jangkauan pemasaran perusahaan juga meluas ke luar provinsi, termasuk Banggai, Majene, Mamasa, Konawe Selatan, hingga Gorontalo.

Berdasarkan data yang disampaikan perusahaan, pemesanan dari berbagai daerah tersebut mencapai sekitar 655.500 ton. Angka ini perlu dilihat berdasarkan periode dan satuan pemesanan yang digunakan perusahaan.

Ke depan, CV Kur Agro Lestari menargetkan produksi dan distribusi pupuk organik mencapai 25 ribu ton pada 2027.

Target tersebut diharapkan dapat mendukung perluasan pasar sekaligus meningkatkan pemanfaatan limbah peternakan dan pertanian menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Perusahaan juga menyatakan telah mengantongi izin untuk menjalankan kegiatan usahanya.

Melalui pengelolaan bahan baku dari berbagai daerah dan proses produksi yang berkelanjutan, CV Kur Agro Lestari berupaya mengembangkan bisnis pupuk organik di Sidrap. Usaha ini sekaligus menunjukkan bahwa limbah peternakan dan sisa pertanian dapat menjadi sumber daya bernilai ekonomi apabila diolah secara tepat.

Pilihan Redaksi:
Tersalin 👍
PEWARTA Sulsel
PEWARTA Sulsel
Media online Pewarta.co.id regional Sulawesi Selatan (Pewarta Sulsel). Menyajikan informasi berita Sulsel terkini up to date.

WARTA SULSEL TERBARU

  • Bisnis Pupuk Organik dari Limbah Ternak di Sidrap, Pasokan Bahan Baku Didatangkan dari Berbagai Daerah
  • Bisnis Pupuk Organik dari Limbah Ternak di Sidrap, Pasokan Bahan Baku Didatangkan dari Berbagai Daerah
  • Bisnis Pupuk Organik dari Limbah Ternak di Sidrap, Pasokan Bahan Baku Didatangkan dari Berbagai Daerah
  • Bisnis Pupuk Organik dari Limbah Ternak di Sidrap, Pasokan Bahan Baku Didatangkan dari Berbagai Daerah
  • Bisnis Pupuk Organik dari Limbah Ternak di Sidrap, Pasokan Bahan Baku Didatangkan dari Berbagai Daerah
  • Bisnis Pupuk Organik dari Limbah Ternak di Sidrap, Pasokan Bahan Baku Didatangkan dari Berbagai Daerah