Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Bupati Sidrap Genjot IP300 di Pitu Riase, Produktivitas Padi Desa Botto Capai 9,5 Ton

Bupati Sidrap Genjot IP300 di Pitu Riase, Produktivitas Padi Desa Botto Capai 9,5 Ton
Bupati Sidrap Genjot IP300 di Pitu Riase, Produktivitas Padi Desa Botto Capai 9,5 Ton
(Foto : Istimewa) 

PEWARTA SULSEL - Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) terus memperkuat pembangunan sektor pertanian melalui berbagai langkah strategis. Upaya tersebut diarahkan pada peningkatan hasil produksi, optimalisasi pengelolaan lahan, hingga pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pertanian.

Desa Botto, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), diarahkan menjadi salah satu kawasan yang mendukung peningkatan intensitas produksi pertanian melalui penerapan pola tanam hingga tiga kali dalam setahun.

Pengembangan tersebut dilakukan melalui program Intensifikasi Pertanaman (IP) 300. Hal ini disampaikan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, ketika menghadiri Panen Raya Musim Tanam (MT) II yang dirangkaikan dengan kegiatan persiapan pengolahan lahan untuk pelaksanaan IP300 di Desa Botto, Jumat (7/8/2026).

Menurut Syaharuddin, pengembangan pertanian di Desa Botto terus mendapat dukungan pemerintah daerah. Selama satu tahun terakhir, sebanyak 28 kelompok tani telah memperoleh berbagai bantuan. Sebanyak 14 kelompok di antaranya mendapatkan dukungan melalui program optimalisasi lahan (oplah) nonrawa.

Salah satu perhatian utama pemerintah adalah memastikan kebutuhan air bagi lahan pertanian terpenuhi. Pemkab Sidrap merencanakan bantuan sumur bor listrik untuk kelompok tani, dengan alokasi tiga unit sumur bor bagi setiap kelompok.

Syaharuddin menilai ketersediaan air merupakan faktor penting dalam mengejar target IP300.

“Ke depan tidak ada lagi sawah yang kekurangan air. Pertanian kita akan semakin modern. Petani cukup mengoperasikan mesin menggunakan handphone dengan sistem voucher,” ujarnya.

Hasil Panen Capai 9,5 Ton per Hektare

Potensi lahan pertanian di Desa Botto tergambar dari hasil ubinan menjelang panen. Produktivitas padi di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 9,5 ton gabah per hektare.

Menurut Syaharuddin, capaian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas dapat terus dilakukan apabila didukung pengelolaan lahan, teknologi, ketersediaan air, serta alat mesin pertanian.

Untuk mempercepat pengolahan lahan, empat kelompok tani di Desa Botto juga memperoleh bantuan rotavator melalui program PM-AAS. Bantuan tersebut diharapkan mempercepat proses pengolahan sawah setelah panen sehingga persiapan musim tanam berikutnya dapat dilakukan lebih cepat.

Pemerintah daerah juga memberikan perhatian terhadap penguatan kelembagaan petani. Dari 27 kelompok tani yang ada, terdapat 12 kelompok yang dinilai memenuhi persyaratan untuk dimekarkan karena mengelola lahan lebih dari 25 hektare. Salah satunya bahkan mengelola lahan hingga 81 hektare.

Syaharuddin menegaskan, modernisasi pertanian tidak hanya berkaitan dengan penggunaan mesin, tetapi juga harus ditopang kelembagaan petani dan infrastruktur yang memadai.

“Pertanian harus menjadi jalan utama meningkatkan kesejahteraan warga Sidrap. Dengan infrastruktur yang baik, air tersedia, alat pertanian modern, dan kelembagaan petani yang kuat, saya optimistis Pitu Riase akan semakin maju dan menjadi lumbung pangan yang lebih produktif,” tegasnya.

Cetak Sawah Terus Dilanjutkan

Selain meningkatkan produktivitas sawah yang sudah ada, Pemkab Sidrap juga melanjutkan program perluasan areal pertanian.

Program cetak sawah seluas 78 hektare yang dimulai pada 2025 belum dapat dimanfaatkan untuk penanaman karena persoalan ketersediaan air. Pemerintah daerah berencana membangun sumur bor sekaligus jaringan listrik sekitar satu kilometer untuk mendukung kawasan tersebut.

Pada 2026, program cetak sawah kembali dilaksanakan dengan luasan 79 hektare di wilayah Toddang Asa.

Pemkab Sidrap juga mendorong petani melaporkan lahan sawah yang mengalami penurunan produktivitas. Lahan yang tidak lagi optimal akan didorong untuk direhabilitasi sehingga kembali berfungsi sebagai areal pertanian produktif.

Jalan Produksi Jadi Perhatian

Penguatan sektor pertanian juga dibarengi pembangunan infrastruktur, khususnya akses jalan menuju kawasan produksi.

Syaharuddin menyampaikan, Sidrap memperoleh penghargaan dari pemerintah pusat sebagai salah satu daerah terbaik di Pulau Sulawesi yang disertai dukungan anggaran Rp3 miliar. Dana tersebut diarahkan untuk pembangunan infrastruktur di wilayah Pallae dan Bola Bulu, Kecamatan Pitu Riase.

Perbaikan jalan juga terus dilakukan di sejumlah wilayah, di antaranya Bila Riase, Barukku, Lombo, Compong, Dengenge-Dengeng hingga Buntu Buangin.

Syaharuddin menyebut, saat awal menjabat terdapat sekitar 955 kilometer jalan dalam kondisi rusak. Hingga kini, sekitar 372 kilometer di antaranya telah diperbaiki.

“Jalan yang baik akan memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat,” katanya.

508 Hektare Hamparan Sawah

Camat Pitu Riase Andi Mukti Ali mengatakan, kawasan persawahan di lokasi panen memiliki hamparan sekitar 508 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 hektare dipanen dalam kegiatan panen raya.

Sementara persiapan menuju penerapan IP300 telah dilakukan pada lahan sekitar 40 hektare.

“Hamparan ini adalah sawah irigasi. Airnya ada, lahannya siap. Tinggal bagaimana kita bersama-sama mengoptimalkan menjadi tiga kali tanam dalam setahun,” jelasnya.

Ia berharap penerapan IP300 dapat meningkatkan hasil produksi sekaligus memberikan dampak terhadap pendapatan petani. Peningkatan produktivitas tersebut juga diharapkan semakin memperkuat kontribusi Sidrap terhadap ketahanan pangan nasional.

“Kehadiran Bapak Bupati menjadi penyemangat bagi kami para petani di Desa Botto untuk terus bekerja, merawat sawah, dan meningkatkan hasil panen,” ungkapnya.

Dengan dukungan air, alat mesin pertanian, akses jalan, perluasan lahan, serta kelembagaan kelompok tani yang semakin kuat, Desa Botto diproyeksikan menjadi salah satu kawasan yang mampu mengembangkan pola tanam IP300 dan meningkatkan produktivitas pertanian di Kecamatan Pitu Riase.