Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Uniknya Tradisi Maulid Nabi di Sidrap, Perpaduan Islam dan Budaya Bugis

Uniknya Tradisi Maulid Nabi di Sidrap, Perpaduan Islam dan Budaya Bugis
Uniknya Tradisi Maulid Nabi di Sidrap, Perpaduan Islam dan Budaya Bugis
(Dok, Ist) 

PEWARTA SULSEL -  Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, tidak hanya menjadi momentum keagamaan. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini juga menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Bugis.

Salah satu ciri khas yang masih dipertahankan dalam tradisi Maulid di Sidrap adalah penggunaan berbagai perlengkapan tradisional seperti telur, beras ketan, batang pisang, bambu hingga lisu. Perlengkapan tersebut biasanya menjadi bagian dari hiasan dalam pelaksanaan Maulid.

Bagi masyarakat, berbagai simbol tersebut bukan sekadar hiasan. Di dalamnya terdapat makna filosofis yang berkaitan dengan rasa syukur, harapan, kebersamaan dan doa agar kehidupan masyarakat senantiasa mendapat keberkahan.

Pelaksanaan Maulid umumnya dipusatkan di masjid. Warga berkumpul untuk membaca barzanji atau riwayat kelahiran Nabi Muhammad SAW, melantunkan selawat, mendengarkan tausiah, hingga menikmati dan membagikan hidangan Maulid.

Tradisi tersebut sekaligus menjadi ruang mempererat silaturahmi. Warga secara bersama-sama menyiapkan berbagai kebutuhan Maulid, sehingga semangat gotong royong dan kepedulian sosial tetap terjaga.

Di masyarakat Bugis Sidrap, tradisi Maulid juga dikenal memiliki unsur sennu-senungeng atau tafaul, yakni mengambil simbol tertentu sebagai bentuk harapan dan doa.

Penelitian mengenai tradisi Maulid mencatat penggunaan pohon pisang, telur dan lisu memiliki makna simbolik tersendiri. Perlengkapan tersebut juga menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan, perjuangan, hadis dan akhlak Rasulullah SAW.

Sementara itu, dalam lingkungan adat Sidenreng, peringatan Maulid menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal.

Tradisi Maulid yang terus dipertahankan masyarakat Sidrap menunjukkan bahwa budaya dan agama dapat berjalan berdampingan. Nilai religius, kebersamaan, gotong royong dan pelestarian budaya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan tersebut.

Bagi generasi muda, tradisi ini juga menjadi sarana mengenal kembali warisan leluhur. Dengan tetap menjaga nilai-nilai keislaman, tradisi Maulid di Sidrap diharapkan terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dengan demikian, Maulid Nabi di Sidrap bukan sekadar perayaan untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi cermin identitas masyarakat Bugis yang menjunjung tinggi agama, adat, kebersamaan dan nilai-nilai sosial.